Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL ANAK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Mei 2010

Menanamkan Kejujuran Pada Anak

Selalu berkata jujur dan menunjukkan sikap kejujuran kepada anak. Hal ini dapat memberikan pesan kepada anak bahwa prinsip kejujuran harus dipegang teguh. Jawablah pertanyaan anak dengan jujur dan terbuka, kecuali terhadap pertanyaan yang tidak selayaknya dijawab kepada anak kecil, dan katakan secara sederhana mengapa orangtua tidak mau menjawabnya (misalnya : ”Nanti kalau kamu sudah besar, ibu/ayah akan menjawabnya”). Jangan mereka mendengar orangtuanya mengatakan ”kebohongan kecil”, misalnya dalam menjawab telepon ”Ibu tidak ada di rumah”. Jangan mengancam mereka dengan tindakan yang orangtua tidak akan melakukannya, misalnya : ”Nanti kamu akan dikirim ke kantor polisi”.

Berikan pujian dan kesempatan kepada anak untuk memulainya kembali dengan benar. Hal ini dapat memberikan kesempatan kedua bagi anak untuk berlaku jujur. Jangan marah kalau orangtua mendapatkan anaknya sedang berbohong, dan katakan kepadanya, ”Tunggu sebentar, ingat berbohong itu tidak baik, kamu tidak perlu berbohong dan katakn hal yang sebenarnya”. Berikan anak kesempatan untuk memulainya lagi. Penting sekali untuk diingat apabila orangtua mendapatkan anaknya berkata dan berlaku jujur agar selalu diberikan pujian. Misalnya ”Mama dan papa bangga sekali denganmu, karena kamu adalah anak yang jujur”.

Berikan pengertian tentang konsekuensi bersikap jujur. Hal ini dapat membuat anak mengerti pentingnya bersikap jujur, misalnya mendapatkan kehormatan, kepercayaan, dan kebahagiaan serta kedamaian di hati. Juga bahayanya orang yang tidak jujur, misalnya tidak dihargai orang lain, dicurigai dan ada rasa bersalah di hati kalau berbohong, sehingga tidak mendapatkan kedamaian hati dan hidup tidak bahagia.

Bersikap ADIL !

“Itu tidak adil”.”idih..kamu curang!!”. Kata-kata tersebut sering terucap oleh anak-anak kalau sedang bermain dengan teman-temannya. Masa kanak-kanak terutama pada usia 4-8 tahun, adalah masa dimana anak masih dalam tahapan ego sentris, yaitu sesuatu dianggap adil adalah kalau sesuai dengan apa yang diinginkannya. Bagi mereka, apabila mereka merasa senang karena keinginannya tercapai, maka itulah yang dianggap adil.

Walaupun tahapan moral yang masih ego-sentri tersebut adalah wajar bagi anak-anak seumur demikian, namun para orangtua harus memberikan pengertian tentang bagaimana konsep adil yang sebenarnya.

Membentuk sikap adil pada anak :

1. Perlakukan anak secara adil di rumah.

2. Perlihatkan sikap adil dalam berbagai aktifitas di rumah (berbagi TV, berbagi tugas rumah dll).

3. Beri kesempatan pada anak untuk membuat peraturan di rumah.

4. Ikut sertakan anak dalam berbagai permainan atau perlombaan agar ia belajar bersikap adil.

5. Hindari pernyataan ”karena saya yang mengatakan”, ”karena saya sudah dewasa”, ”karena begitulah caranya”.

6. Berikan pemahaman bahwa keadilan tidak ada hubungannya dengan ukuran tubuh, usia, tingkat pendidikan seseorang.

7. Bantu anak membangun harga diri sehingga ia menjadi percaya diri.

8. Ajukan sebuah masalah dan doronglah anak untuk mencari jalan keluar yang adil dari masalah tersebut.

9. Pujilah anak bila ia telah menunjukkan sikap adil.

Percakapan yang Sia-sia : Menasehati dan Mengkritik Menciptakan Jarak dan Kekecewaan

Banyak orang tua merasa kecewa ketika mengobrol dengan anak-anak mereka, sebab obrolan mereka tidak menentu arahnya, sebagaimana digambarkan oleh ucapan : “Kamu pergi kemana saja?”, “Keluar”. “Apa yang kamu lakukan?” “Tidak ada”. Orangtua yang berusaha bersikap sewajarnya merasakan betapa letihnya usaha ini. Malah seorang ibu berkata, “Saya berusaha keras berbicara dengan anak saya, tetapi dia tidak mau mendengarkan saya. Dia hanya mendengar ucapan saya jika saya berteriak.”

Seringkali anak-anak tidak mau dinasehati, diajak bicara, dan dikritik. Mereka merasa bahwa orangtua mereka terlalu banyak bicara. David, yang berusia 8 tahun, berkata kepada ibunya, ”Ketika saya mengajukan pertanyaan yang pendek, mengapa ibu menjawab dengan kalimat yang begitu panjang?” Kepada teman-temannya dia berkata, ”Saya tidak mau bercerita apa pun juga kepada ibu saya. Kalau saya memulainya, saya tidak akan mempunyai waktu lagi untuk bermain”.

Seorang pengamat yang kebetulan mendengarkan percakapan antara anak dan orangtua ini menyimpulkan bahwa komunkasi di dalam keluarga ini tidak berjalan dengan baik. Percakapan mereka tidak menyambung. Yang satu mengkritik dan yang lain memerintah, yang satu menyangkal dan yang lain memohon. Tragedi komunikasi seperti initerjadi bukan kerena kurangnya kasih sayang, melainkan karena kurangnya penghargaan; bukan karena kurangnya kepintaran, melainkan karena kurangnya keterampilan berkomunikasi.

Bahasa yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari tidak memadai untuk berkomunikasi secara berarti dengan anak-anak. Agar dapat berkomunikasi dengan anak-anak secara baik dan mengurangi rasa frustasi, sebagai orangtua perlu mempelajari cara yang paling tepat untuk berkomunikasi dengan anak-anak kita.

Memahami Perasaan Anak akan Membantu Mereka Untuk Mengerti Perasaan Mereka


Anak-anak mengetahui kesamaan fisik mereka dengan melihat bayangan diri mereka di depan cermin. Mereka belajar tentang kemiripan emosi mereka dengan mendengarkan perasaan mereka sendiri. Fungsi cermin adalah untuk merefleksikan suatu citra sebagaimana aslinya, tanpa rayuan/kecurangan. Kita tidak menginginkan cermin yang kita pakai memberi tahu kita, ”Kamu kelihatan jelek sekali. Mata kamu nampak merah dan wajahmu bengkak. Semuanya kelihatan berantakan. Sebaiknya kamu melakukan sesuatu untuk mempercantik dirimu.” setelah beberapa kali berhadapan dengan cermin ajaib seperti ini, mungkin kita akan segera menghindarinya seperti wabah penyakit. Dari cermin itu kita menginginkan penampakan suatu citra, bukan khotbah. Barangkali kita tidak menyukai citra yang kita lihat, namun demi kepentingan diri kita sendiri, sebaiknya kita memutuskan langkah kosmetik yang harus kita lakukan selanjutnya.

Demikian pula, fungsi cermin emosi adalah untuk merefleksikan perasaan kita yang sebenarnya, tanpa penyimpangan sedikit pun :
”Kelihatannya kamu seperti sedang marah.”
”Nampaknya kamu sangat membenci dirinya.”
”Agaknya kamu merasa kecewa dengan kejadian itu.”

Bagi seorang anak yang mempunyai perasaan seperti itu, pernyataan ini sangat membantu. Semuanya memperlihatkan dengan jelas apa yang sedang dirasakannya. Sebagai orang dewasa, kita tentu pernah merasa sakit hati, marah, takut, bingung atau sedih. Pada saat emosi kita memuncak, kita akan merasa terhibur dan tertolong dengan kehadiran seseorang yang mau mendengarkan dan mengerti perasaan kita. Begitu juga dengan seorang anak yang merasa kecewa, takut, bingung, atau sedih, secara alamiah kita lebih cenderung menghakiminya dan memberikan nasehat. Tindakan seperti ini akan memberikan pesan yang jelas, jika tidak diwaspadai : ”Kamu adalah anak yang bodoh. Karena itu, kamu tidak mengetahui apa yang harus kamu perbuat.” Di atas penderitaan yang dialaminya kita telah menambahkan beban penderitaan yang baru.

Ada cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini. Ketika kita menawarkan waktu dan kasih sayang kita untuk memahami seorang anak, kita mengirimkan pesan yang sangat berbeda : ”Dirimu sangat penting bagi kami. Kami ingin memahami perasaanmu.” Di balik pesan yang vital ini terdapat usaha untuk menenangkan diri kembali :

AYAH Penasehat Pribadiku

Berdialog adalah cara efektif untuk bisa lekat dengan anak. Sambil berdialog, ayah sekaligus bisa menjadi penasihat pribadi si kecil.
Menjadi orangtua yang hangat adalah dambaan setiap ayah – juga ibu. Itulah mengapa saat si kecil dilahirkan, para ayah berusaha terlibat langsung untuk mengasuh dan merawat si buah hatinya. Namun tentu saja peran ayah yang hangat tidak berhenti pada saat anak lahir. Justru ketika itulah proses awal menjadi ayah yang baik dimulai.

Bagi banyak anak, ayah yang hangat adalah ayah yang mampu menjadi penasihat untuk berbagai sisi kehidupannya. Sebagai sosok yang kehadirannya lebih jarang dibanding Ibu, nasihat ayah bisa terasa khusus dan lebih menyenangkan. Sayangnya seringkali ayah “menasehati” saat anak melakukan kesalahan. Akibatnya anak menjadi takut berbicara dengan ayahnya secara terbuka. Bagaimana solusinya?

Tempat Anak Merujuk
Tak mudah memang menjalin kedekatan dengan si kecil. Apalagi buat ayah yang super sibuk. Namun itu bukan alasan untuk tidak dengan buah hati Anda, bukan? Banyak cara yang bisa dilakukan. salah satunya dengan menjadi “penasihat pribadi” anak. Maksudnya? “Ya, jadilah tempat anak merujuk segala hal”, ujar Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, M.M.

Makna penasihat pribadi di sini tentu saja bukan seperti orang dewasa yang meminta nasehat ke orang pintar, guru, atau agamawan. Namun lebih kepada siapa bisa merujuk kalau ingin bertanya tentang apapun informasi yang dimiliki atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga tempat rujukan ketika dia mengalami pergumulan emosi – senang , marah, sedih, atau tak puas terhadap sesuatu.

Penasihat pribadi juga bukan bermakna bahwa ayah menjadi penasihat khusus yang harus selalu memberi jalan keluar terhadap masalah apapun. “Tidak seperti itu, sehebat-hebatnya orangtua, tentu banyak hal yang tak diketahuinya. Di sinilah ayah dapat memanfaatkan momen tersebut untuk bisa sharing dengan anak. Ayah bisa meminta anak untuk mengutarakan pendapat dan ide-idenya secara bebas.

Bagaimana kalau si ayah bertipe pendiam? Jangan cemas. Menjadi penasihat pribadi anak tak tergantung apakah si ayah bertipe pendiam atau banyak omong. Namun dari bagaimana kelekatan antara ayah dan anak terjalin. Kalau kelekatan sudah terjalin dengan baik, anak tentu akan merasa nyaman berdialog dengan ayahnya.
Inti menasehati sebenarnya adalah dialog dan juga memberi inspirasi (baik moral, kebiasaan, kewajiban, dan lainnya. Yakni apa yang sebaiknya dilakukan anak.

Ciptakan “Trust” Pada Anak.
“Nasihat hanya akan berfungsi kalau yang bersangkutan meminta”. Demikian sebuah kalimat bijak. Bagaimana agar si buah hati “meminta” nasihat Anda? Yang utama adalah menciptakan trust , yakni anak percaya dan merasa aman dengan ayahnya. “Trust is something that very important,”.

Rasa aman dan percaya membuat hubungan keduanya lebih dekat dan hangat. Kondisi ini tentu akan membuat ayah bisa berperan sebagai tempat rujukan tentang beragam emosi dan keingintahuan yang ia rasakan. Sebaliknya, bila trust itu tidak ada, sulit rasanya anak akan mau bicara secara terbuka. Bahkan menurut Ratih, mau bicara jika ditanya saja sudah lumayan.

Apakah anak harus selalu meminta nasihat pada ayahnya? Tentu saja “meminta” di sini tidak diartikan semata-mata meminta sesuatu. “Meminta” juga berarti seorang ayah harus peka melihat kebutuhan anak. Pada saat melihat anak butuh bantuan, dan ayah dapat langsung mengulurkan bantuannya. Anda bisa menanyakan kenapa seperti itu dan apa yang dapat dibantu. Jika anak merespon tawaran anda tersebut, berarti dia akan membuka hati dan dirinya.

Jangan Menggurui
Siapa sih yang senang digurui? Demikian pula dengan si kecil. Untuk itu, saat berdialog dan “menasehati”, posisi ayah dan anak mesti setara. Tentu saja bahasa yang digunakan sesuai usia anak.
Berdasarkan transactional Analysis, posisi seperti itu dikenal dengan karakteristik Adult (dewasa-dewasa). Tipe adult cenderung lebih dewasa, matang, rasional, dan objektif. Saat meminta anak belajar, misalnya, Anda akan mengatakan, “Sayang, belajar dulu ya. Belajar itu penting agar kamu tak mendapat nilai jelek di sekolah. “Intinya adalah, anak mesti mendapat penjelasan sehingga dia percaya bahwa ayahnya begitu perhatian dan mencintainya.

Hal itu berbeda dengan tipe parent and child. Karakteristik parent itu biasanya senang mengkritik dan menggurui. Misalnya, “Nak, kamu harus belajar dulu baru menonton teve.” Sementara untuk tipe child itu biasanya impulsive, seenaknya, dan manja. Contoh, “kalau kamu nggak belajar, Mama marah dan ngambek ah…. Kedua tipe ini melibatkan emosi yang intens.

Memang menjadi penasihat pribadi anak tidaklah mudah. Namun juga tidak sesulit yang dibayangkan. Kuncinya adalah berdialog, perhatian, dan memberikan kasih sayang Anda.

Tips Sukses menjadi Penasihat Pribadi
1. Sediakan waktu untuk anak.
2. Bukalah diri untuk berbagai kemungkinan berdialog dengan anak. Saat berdialog perlihatkan bahwa Anda begitu memperhatikannya.
3. Jangan membuat janji kalau Anda yakin tidak bisa menepatinya. Karena ini akan membuat kepercayaan anak menurun.